Sabtu, 14 November 2015

Bulan Kedelapan : Suga Shima

Sebetulnya bulan ketujuh belum semua dituliskan, tapi ini dulu deh, takut nanti lupa.

14 November 2015, saya ikut tur yang diadakan temen yang kerja di sini ke Pulau Suga (Sugashima, shima=pulau). Tema tur nya adalah mengunjungi SD di pulau tersebut, di mana anak-anak SD akan menjadi guide kita selama satu hari. Buat saya ini menarik, sebagai pengajar (ngakunya) saya ingin melihat langsung proses pembelajaan, dan sarana KBM di SD di salah satu pulau kecil di Jepang. Harga turnya juga cuma 2500 yen saja.


Sugashima.jpg
Sugashima

Pulau Suga terletak di Kota Toba, Prefektur Mie. Kota Toba sendiri merupakan kota wisata yang cukup terkenal di Jepang. Dari Kota Toba kita bisa naik kapal ferry selama lima belas menit menuju Sugashima. Pulau ini brpenghuni sekitar enam ratusan orang saja. Di Pulau Siga terdapat Mercusuar tertua di Jepang. Sayang cuaca sedang buruk ketika saya ke sana, sehingga tidak dapat ke sana karena terlalu berbahaya bagi anak-anak yang menjadi guide kami. 
Gedung sekolah (tampak belakang)

Di Pulau Suga ternyata hanya ada TK dan SD saja, jadi untuk meneruskan ke SMP dan selanjutnya, mereka rata-rata meneruskan ke Toba. Jumlah siswa SD di Pulau ini pun hanya 23 orang saja. Meski begitu, fasilitas sekolah ini lengkap mulai dari lapangan olahraga, gedung kelas yang besar, hingga kantin dan ruang makan yang besar. 

Ise ebi (tanpa sup misou)
Begitu datang kami langsung diminta mencicipi Ise Ebi Misou (sup miso dengan isian lobster yang harganya cukup mahal, dan kami dapat gratis) hasil tangkapan nelayan Pulau Suga. Selain itu, kami juga diminta mencicipi berbagai penganan produk unggulan pulau itu seperti roti rumput laut, hiu kering, dsb. 

Berfoto bersama anak-anak SD Pulau Suga

Mecha kawaiiiii desu yo

Anak kelas 5&6 sedang mempresentasikan Pulau Suga

Ama chan, anak-anak ini menggunakan kostum Ama san.

Selanjutnya, kami berfoto bersama, dan kemudian anak-anak mulai mempresentasikan keadaan Pulaunya mulai dari kelas 5&6 A, 5&6B, 3&4, dan 1&2. Mereka menjelaskan berbagai hal tentang pulau mereka seperti sejarah mercusuar, pemadam kebakaran, Ama san (wanita-wanita pencari abalone, di Jepang hanya Ama san yang boleh menangkap abalone), hingga profesi orang tua mereka yaitu nelayan, pemilik toko, resepsionis klinik, pemilik penginapan, dsb. Bahkan orang tua siswa tersebut hadir semuanya bersama kami mendengarkan presentasi mereka, dan menambahkan apabila ada pertanyaan dari peserta. Saya kagum melihat kedekatan warga pulau yang saling mengenal satu sama lain, dan saling bekerja sama layaknya keluarga besar.

Nenek ini adalah seorang Ama san, ia sudah berumur 63 tahun namun masih menyelam untuk mengambil abalone tanpa tabung oksigen.

Setelah selesai makan siang, kami berkeliling pulau, meskipun agak sedikit hujan, namun anak-anak bersemangat menjelaskan berbagai hal seperti kuil mereka, letak toko ayah salah satu murid, perahu milik ayahnya, jaring nelayan buatan ibunya, panti jompo, dsb. 

Anak ini sedang menunjukkan kapal penangkap ikan milik ayahnya

Dengan hanya enam ratus penduduk, yang sebagian besar orangtua, anak-anak ini cukup jarang bertamu orang dari luar pulau mereka. Anak-anak ini baru akan sering keluar pulau ketika memasuki usia SMP. Oleh karena itu, anak-anak pulau ini sangat senang menyambut kami. Kepala sekolah punmengatakan jika tujuan pembelajaran ini adalah untuk mengenalkan anak agar berani bergaul dengan orang baru yang sebelumnya tidak dikenal mengingat mereka sehari-hari hidup di lingkungan orang-orang yang mereka kenal saja.

Seusai tur, kami bersiap naik ferry untuk pulang, dan kami sangaaaaaat terharu melihat anak-anak Pulau Suga berlarian menuju ujung dermaga sambil berteriak 'bye-bye'. Sungguh, suatu saat saya harus ke sana lagi.....


bye-bye....... arigatou gozaimashita, otsukaresama deshitaaaa.....sayonaraaaaa.....









 









Minggu, 08 November 2015

Bulan ketujuh: Tsu Matsuri

Jepang rajanya festival, dikit-dikit matsuri.

Kali ini matsuri di pusat kota Tsu, dalam rangka memperingati hari jadinya.

ini foto-fotonya:

Menunggu arak arakan

Rika Adachi, artis muda Jepang yang jadi bintang tamu di matsuri ini

Lumayan

Berfoto


Yosakoi, tari bersama, semangat dan banyakan. bisa sampai puluhan. kini saya ngerti kenapa AKB bisa sampai 48. Karena budaya Yosakoi ini.


gemesin

anak-anak sekolahan ikut menari yosakoi

bahkan bukan hanya murid, gurunya pun ikutan

nenek-neke juga, ini rata-rata umurnya sudah 70 taunan looooo


selain di panggung, yosakoi juga dilakukan oleh arak-arakan di sepanjang jalan raya, lumayan cape tapi menyenangkan

Bulan Ketujuh: Odaigahara. Nara

Awal bulan oktober, tanpa angin dan hujan, ditengah sibuk-sibuknya saya mempersiapkan seminar di Jiangsu university, sensei tiba-tiba ngajak saya ke lapangan. Kali ini ke lokasi risetnya di Odaigahara, Perfektur Nara. Hai, ok desu, tanpa pikir saya langsung mengiyakan.

Kami pergi berempat, Saya, sensei, Okamoto-chan (anak tingkat empat, yang skripsinya di odaigahara), dan Ninomiya-kun (anak tingkat toga, yang jadi tukang angkut, sama seperti saya).

Singkatnya, riset tersebut tentang pengaruh tumbuhan sasa (dwarf bamboo, yang menjadi gulma) terhadap laju transpirasi air pada pohon spruce. jadi masang sensor di batang pohon spruce nya.

betewe, ini aja deh foto-fotonya....yang jelas Odaigahara ini tempat yang indah dan menjadi taman nasinal yang sangat terkenal di Jepang. Apalagi ke sininya pas autumn, daun-daun sudah mulai berubah warna.

Alkisah dulu ada topan yang menumbangkan spruce (cemara) lalu terjadi suksesi dwarf bamboo yang mengancam spruce

Add caption




hamparan dwarf bamboo


deer line, perhatikan pohon-pohon tersebut semuanya gundul bagian bawahnya tidak ada batang dan daun dan bisa ditari garis yang hampir lurus. penyebabnya, karena dimakan oleh rusa. Rusa di Jepang kini menjadi hama yang cukup mengkhawatirkan bagi kelestarian hutan


Dwarf bamboo







Bulan keenam : Tokyo dan Teman

Post ini tentang bulan september yang entah kenapa sangat malas  menulis hingga tertunda sampai november.

Di bulan September, banyak hal sebetulnya yang dilakukan mulai dari jualan di Suzuka, buka stand masakan Indonesia, Pekan olahraga mahasiswa Indonesia se Jepang (PPI) di Toyohashi, dan perjalanan ke Tokyo.

Tokyo, ibukota negeri Sakura ini cukup jauh ditempuh dari Mie, jika menggunakan Shinkansen perlu setidaknya dua jam lebih dari Nagoya, sedangkan menuju Nagoya sendiri perlu sekitar satu jam dari Tsu. Singkatnya, saya ingin setidaknya sekali di tahun ini menuju Tokyo, karena ada dalam list 'to do' saya. Kebetulan ada dua teman yang terlibat, satu pa Budi yang akan seminar di sana, satu lagi Alip, nascents (temen SMAKBO) yang mahasiswa Waseda University. Rencananya saya pergi dengan pa Budi dan nebeng semalem di Alip. Keduanya mahasiswa yang akan pulang, Alip september, pa Budi oktobernya. So, perjalanan ini pasti akan sangat dikenang karena bisa jadi perjalanan terakhir kami bersama sebelum ketemu lagi, entah kapan.

Saya menggunakan bis malam menuju Tokyo, bisnya asik, ada kelas bisnis dan eksekutif, kabinnya mirip pesawat. Lama perjalanan menempuh delapan jam. Kami berangkat malam pukul sepuluh, dan tiba di Shinjuku pagi pukul enam

Selanjutnya saya dan pa Budi berpisah, saya menunggu Alip, pa Budi jemput istrinya di Haneda.

Di Tokyo selama dua hari satu malam saya pergi ke: Shinjuku koen,Kompleks  Gedung Pemerintah Jepang, Waseda University, Tokyo Tower, Odaiba, Asakusa, Tokyo National Museum, dan Ueno Zoo.

Pulangnya saya bertemu pa Budi di Tokyo station dan naik shinkansen nozomi kembali ke Nagoya.

Komplek gedung pemerintahan

komplek gedung pemerintahan

memberi makan burung di Shinjuku koen

Bung Alip

Tokyo Tower

Tokyo tower

Tokyo Tower

Tokyo tower

'Nyekek' Gundam, Odaiba

Odaiba

Asakusa

Museum Nasional Tokyo

Museum Nasional Tokyo

Beruang kutud di Ueno Zoo

Shinkansen Nozomi dan Kodama

Pa dan Bu Budi