Jumat, 28 Agustus 2015

Bulan Kelima: Kobe

Tanggal 15 agustus, saya bersama teman-teman Indonesia, bertamasya ke Kobe. Kobe merupakan alah satu kota pelabuhan terbesar di Jepang. Selain itu, Kobe terkenal dengan Kobe beef atau wagyu. Rencananya kami akan mengunjungi museum gempa, Masji Kobe, dan Merinken Park.

Museum gempa.

Sabtu (17/1/1995) dini hari, hujan yang mengguyur semalaman baru mereda. Taman Higashi Yuenchi di Kobe, Prefektur Hyogo, Jepang, dipenuhi warga. Tepat pukul 05.46, terjadi gempa dangkal yang berkekuatan 7,2 skala richter di kota Kobe. Lebih dari lima ribu orang tewas. Untuk mengenangnya, dibangun gedung museum gempa. Di museum ini terbagi dalam empat lantai, begitu masuk kita naik ke lantai empat, di sana kita menonton teater 4D tentang detik-detik terjadinya gempa. Suasananya sangat mencekam, dalam hitungan detik seluruh kota hancur. Dengan menonton video selama tujuh menit itu, saya serasa berada langsung dan merasakan kepanikan warga Kobe waktu itu. Setelahnya, kami menuju ke teater selanjutnya yang menayangkan dokumentasi masa recovery setelah gempa. Bagaimana warga Jepang bahu membahu dan bergotong royong, bagaimana sopannya bangsa Jepang bahkan di tengah bencana, bagaimana saya melihat rekaman wartawan tentang warga Jepang yang mengantre rapi dan tertib tidak saling mendahului, bahkan terkesan mendahulukan orang lain ketika menerima bantuan, salut.

Di lantai tiga, museum menampilkan berbagai memorabilia barang-barang yang menggambarkan kehancuran kota Kobe hingga berbagai barang yang selamat. Ada juga berbagai kit survival yang diberikan ketika masa tanggap darurat. Foto recovery Kobe pun ditampilkan hari demi hari.

Di lantai dua, kita bisa menyaksikan data berbagai bencana alam di bumi, gempa terdahsyat (termasuk Aceh dan Krakatau). Selain itu juga ditampilkan berbagai miniatur konstruksi tahan gempa. Gempa Kobe sungguh telah membuka mata masyarakat Jepang dan mengubah teknik konstruksi bangunan mereka.





Masjid Kobe

Masjid ini merupakan masjid pertama di Jepang dibangun pada tahun 1935. Arsiteknya berkebangsaan Ceko yaitu Jan Josef Švagr. Masjid ini bergaya India berpadu Eropa. Masjid ini selain menjadi tempat ibadah, juga menjadi tujuan wisata.

Hampir setiap hari ada yang bersyahadat di masjid ini, bahkan ketika kami berkunjung pun ada seorang Jepang yang bersyahadat.

Konstruksi masjid ini sangat kuat bahkan bertahan dari serangan sekutu pada Perang Dunia II dan gempa Kobe 1995.



Merinken Park

Merinken park adalah taman pelabuhan kota Kobe. Di sini terdapat Kobe Tower, Merinken park hotel, Harborland, dan Museum Anpanman.

Di sini spot sempurna untuk berfoto :)





















Catatan Bulan Kelima: Fujisan

Tanggal 8-8-2015
Pada tanggal ini, akhirnya salah satu impian saya tentang Jepang, terwujud dengan indah. Sebelumnya saya bermimpi bisa bertemu kamen rider, sekarang mimpi yang terwujud adalah merasakan Jepang berada di bawah telapak kaki saya. ya, saya mendaki tanah tertinggi di Jepang, 3.776 mdpl, gunung Fuji, atau orang Jepang memanggilnya Fujisan.

Saya mendaki ditemani tiga teman laboratorium, Yokoi kun, Oba kun, dan Gaku kun. Terdapat empat rute utama pendakian Gunung Fuji. Kami memilih rute yang tidak terlalu berat karena keterbatasan waktu. Kami memilih Yoshida trail. Rute ini diawali di pos lima yaitu Fuji Subaru yang berketinggian 2.305 mdpl. Dari lokasi ini menuju puncak diperlukan tujuh setengah jam perjalanan hingga pos sepuluh atau puncak. Kami pergi dengan merental mobil. Mobil diparkirkan di tempat parkir, dan kami menggunakan bis menuju pos lima. Jarak dari tempat parkir ke pos lima cukup jauh, kira-kira satu jam perjalanan.

Kami memulai pendakian pukul satu siang. Jalan di gunung ini berpasir, namun sudah sangat bersahabat. di ketinggian bisa ditemukan pedagang, bahkan di puncaknya ada vending machine untuk membeli minuman. 

Pukul setengah empat sore kami tiba di pos tujuh, kami memesan shelter di sini, dan bersitirahat untuk melanjutkan perjalanan malam pukul sebelas. Kami memang tidak ingin terburu-buru dan ingin lebih menikmati perjalanan ini. Setelah tidur, pukul dua belas malam kami dibangunkan dan melanjutkan perjalanan. Suasana mendaki di sini sangat ramai, bahkan saking ramainya kami harus mengantri. Kami sampai di puncak pukul setengah empat. Antrian sangat panjang terjadi dari pos sembilan menuju puncak. Selain itu, Oba kun sempat mengalami masalah nausia, yaitu pusing dan mual karena kekurangan oksigen, sehingga kita berhenti dahulu cukup lama untuk memulihkan diri.

Alhamdulillah kami tiba tepat di saat matahari terbit. Di area puncak terdapat kuil dan puncak sebenarnya atau titik triangulasi. Banyak turis yang salah mengira dan menganggap puncak gunung fuji adalah tugu di depan kuil. Padahal titik puncak sebenarnya berada di seberang kawah, kita perlu memutar dulu hingga mencapai titik tertinggi, yang ditandai tugu dan tebing yang bisa digunakan untuk berfoto. Nama puncak gunung Fuji adalah Kenga Mine. di titik ini juga terdapat radar cuaca milik badan meteorologinya Jepang. Di area puncak terdapat kawah besar, di dasar kawah, kita masih bisa melihat glester es meskipun sedang musim panas. 

Setelah puas berfoto dan memutari kawah, pukul setengah delapan pagi kita turun. Dan setelah menempuh dua setengah jam, pukul setengah sebelas kita berempat tiba di pos lima. 

Titik tertinggi Jepang, 3.776 mdpl

Kawan mendaki

Tabah Sampai Akhir

Kawah gunung Fuji, bagian berwarna putih adalah gletser

Shelter yang nyaman dan hangat di pos 7, harganya 6800 yen per malam, lumayan mahal

Sunrise

Pos lima, Fuji Subaru

Sunsrise

Sabtu, 01 Agustus 2015

Catatan Bulan Kelima

Bertemu Kstaria Baja Hitam, Casey Stoner, dan Kembang Api

Ketemu Digimon (Kyoto, TOEI Kyoto Studio Park)
Ketemu Ksatria Baja Hitam (Kyoto, TOEI Kyoto Studio Park)


Ketemu Ninja Boys (Kyoto, TOEI Kyoto Studio Park)


Tempat Syuting Kyoto Inferno nya Samurai X (Kyoto, TOEI Kyoto Studio Park)





Nyobain motornya Rossi (Suzuka circuit, Suzuka 8hours)




Casey Stoner, sayang sekali di balapan ini doi kecelakaan parah (Suzuka circuit, Suzuka 8hours)


Kembang api (Hisai)
Kembang Api (Hisai)