Senin, 27 April 2015

Catatan Minggu Ketiga Lebih Sekian

ini bukan tentang perjalanan ke Nabana no Sato. Ini tentang perjalanan pertama kali takziah melayat saudara setanah air yang meninggal di sini.

Siang tadi saya melalui grup Line menerima kabar jika anak dari seorang rekan setanah air telah berpulang ke rahmatullah. Almarhumah baru berusia 14 bulan, dan memang memiliki banyak kelainan sehingga daya tahan tubuhnya tidak seperti anak biasa. Rekan kami tersebut adalah seorang kenshusei (sebutan bagi pekerja atau pemagang di Jepang). 

Di negeri orang, yang tidak banyak muslimnya, apalagi di Jepang, yang sangat banyak aturannya, musibah seperti ini tentu saya yakin cukup menyulitkan apalagi jika jauh dari sanak saudara. Apalagi di sini, sulit mencari lahan pemakaman, masjid, bahkan mencari ustadz untuk berdo'a pun sulit. di tempat ini saya menyadari jika setiap muslim memang harus mengetahui berbagai hal termasuk mengurus dan mendo'akan jenazah. Namun, di sini juga saya menyadari jika di sini rasa persatuan ummat hingga rasa ke-Indonesiaan itu tumbuh kuat. Barusan, acara tahlilan, semua kenshusei dan mahasiswa di sekitar Mie meluangkan waktu untuk mendo'akan almarhumah. Di sini, meringankan beban keluarga yang terkena musibah itu sungguh terlihat. Bahkan, untuk acara tahlilan, masing-masing tanpa diminta memasak dan membawa ke apato (apartemen) keluarga almarhumah. Bahkan rekan kami yang bukan Islam pun ikut serta datang dan membawa masakan,  bahkan ikut duduk ketika tahlilan. Semua ikut serta mulai dari menyiapkan makanan, mendampingi keluarga mengurus otopsi jenazah (karena di sini jenazah wajib diotopsi),  menjemput rekan lain di stasiun, hingga mencari lahan pemakaman. Dengan semua keterbatasan kami, dengan jumlah kami yang sedikit, dengan berbagai etnis, suku, dan agama, justru di sini, kami merasa seperti saudara, se-Indonesia. Alhamdulillah.


Kamis, 16 April 2015

Catatan hari ke 12-14

Hari senin hingga rabu saya diajak sensei untuk ikut kuliah lapangan anak-anak undergraduated yang berlokasi di Hirakura forest station, yaitu hutan pendidikan milik Mie University yang memiliki luas kira-kira 400an hektar. Berhubung saya masuk ke departemen kehutanan, maka praktikum nya pun merupakan praktikum kehutanan. Ketika saya diberi rundown oleh sensei saya membaca praktikum yang dilakukan adalah memotong pohon dan memotong ranting untuk melindungi akar.

Karena saya bukan berasal dari s1 kehutanan saya berpikir praktikumnya hanya praktikum biasa. Ternyata mahasiswa ini benar-benar disuruh untuk memotong pohon. Bukan perkelompok, tapi satu orang harus mencoba menumbangkan satu pohon. Jadi, mahasiswa ini baik pria maupun wanita mereka harus bisa menebang pohon! Pohon yang ditebang pada hari pertama adalah pohon sugi (Cryptomeria japonica). Tujuan dari praktikum ini adalah melakukan penjarangan pohon agar pohon dapat tumbuh lebih besar. Pada hari terakhir mahasiswa diminta mengikatkan ranting pohon cyperus pada batang utama pohon-pohon komoditas yang masih kecil, tujuannya untuk melindungi agar tidak digigit oleh rusa, karena ranting cyperus tidak disukai rusa. Kegiatan ini dilakukan meskipun hari hujan. Suhu di tempat ini ketika hujan kemarin mencapai hanya sekitar 5 derajat saja. Jangankan saya, orang Jepang aslinya pun merasa kedinginan. Namun, mahasiswa ini tetap bersemangat mengikuti berbagai kegiatan. Sensei saya mengatakan, kegiatan menebang kayu ini bisa jadi merupakan pengalaman pertama bagi mahasiswa ini, namun semangat mereka sangat luar biasa.

Kegiatan ini dilakukan selama tiga hari. Seusai kegiatan lapangan, kami pulang ke home base berupa mess yang memiliki fasilitas yang sangat memadai. Terdapat banyak kamar dengan empat ranjang tingkat setiap kamarnya. Setiap kamar dilengkapi pemanas. Namun, kamar mandi menggunakan sistem kamar mandi bersama ala orang Jepang. Jadi ketika mandi, beberapa orang akan telanjang bersamaan dalam satu ruangan. Tentu laki-laki dan wanita dipisahkan dalam ruangan berbeda. Terdapat dua ruang kelas di mess ini.

Satu hal yang akan selalu saya ingat dari kegiatan kuliah lapangan ini adalah kerapihan manajemen orang Jepang. Kegiatan kuliah lapangan ini benar-benar diurus oleh mahasiswa. masalah keuangan pun diurus mahasiswa dengan cara patungan untuk membeli bahan makanan yang dimasak oleh staf yang ada di mess (penginapan merupakan fasilitas kampus, jadi tidak perlu bayar). Bahkan, sensei pun ikut patungan. Kemudian, seusai kegiatan kuliah, ketika akan pulang, seluruh mahasiswa bergotong royong membersihkan mess, hingga menyikat toilet mess. Saya sendiri pun diminta menyapu kamar yang saya gunakan, Bahkan sensei pun ikut menyapu kamar sendiri. Sampah dari barang-barang yang dibawa dari Mie University juga dipack dan dipisahkan kemudian dibawa kembali untuk dibuang di kampus Mie University!

Kegiatan-kegiatan kuliah lapangan mereka mengingatkan saya pada film Woodjob!, film yang mengangkat kehidupan para pelaku industri kehutanan di Jepang, terutama para penebang kayu. Dan, guess what, ternyata film woodjob! juga dilakukan di mess dan hutan Mie University! :)









Minggu, 12 April 2015

Catatan Hari 4-10

 Lama tidak menulis blog dikarenakan hari sudah mulai sibuk, mungkin blog ini nantinya bisa jadi akan menjadi mingguan, atau bsa jadi sehari diapdet 2 kali :))


Hari Rabu tanggal 8 merupakan hari istimewa, hari itu merupakan entrance ceremony kami diterima sebagai mahasiswa Mie University.... Saya jadi terkenang masa mimosa dulu di UPI yang sangat meriah, dan juga terkenang masa ospek di PSMIL yang sederhana namun mengena.
Pelaksanaan Entrance Ceremony di Jepang tidak jauh berbeda dengan Indonesia. Bedanya, ketika di UPI dulu, rektor, dan para dekan berjalan menuju panggung, diiringi orkestra, di sini, Rektor dan dekan sudah ada dipanggung, namun layarnya tertutup...ketika layar dibuka, nampak rektor dan dekan sudah duduk rapi (mirip acara masquerade, atau orkestra musik). dan tentu, beda bahasa....Penerimaan siswa magister dan doktoral dibedakan jamnya dengan penerimaan mahasiswa s1.



Hari jum'at juga merupakan hari istimewa bagi saya, karena lab tempat saya akan belajar mengadakan welcome party bagi anak-anak yang baru bergabung. Saya (magister, sendiri) bersama enam belas anak S1 (tingkat 3 dan 4) yang baru menjadi anak bimbingan Kisanuki Sensei di lab Forest Ecology Conservation diterima dalam sebuah acara welcome party. Acara ini diadakan di sebuah restoran China. Sebagai muslim, saya tentu harus menjaga yang saya makan atau minum, karena pesta di Jepang identik dengan minum sake, bir, atau alkohol lainnya. Ada aturan yang unik dalam pesta-pesta di Jepang, pertama sebelum makan selalu ucapkan itadakimashu. Kedua, ketika bersulang ucapkan 'kampai'. Ketiga, ketika sensei memberi minum sake atau alkohol pada kita, jangan coba-coba pulang duluan sebelum pesta selesai (tentu sensei tidak memberi minuman pada saya :) ). Keempat, setelah selesai, seluruh peserta berdiri dan bertepuk tangan sekali untuk menutup pesta.



Hari sabtu, saya diajak Mba Nina menuju Nagoya untuk berlatih menggunakan kereta. Kami pergi bersama mba Nina, Bro Budi, Anak-anak shortstay dari Unsri dan IPB, serta empat orang anak exchange dari  Malaysia, yang berasal dari TATI Treangganu. Nagoya berjarak 70 km dari  Tsu-Shi, Mie. Di Nagoya, kita berkeliling dari pusat sains Nagoya (tiket 450 yen, harga pelajar + planetarium), Museum Listrik Jepang (gratis), Kuil (lupa namanya), dan Nagoya tower (NHK). 





Senin, 06 April 2015

Catatan Hari 3



Tanggal 6 April 2015
Faculty of Bioresources, Mie Daigaku, Pagi hari

Pagi pukul 8 kami berempat sudah bersiap-siap untuk menuju kampus untuk kali pertama. Agenda kami hari ini adalah menemui Kang Candra yang akan mengantar kami menemui Tsukada sensei. Tsukada sensei akan mengantar kami mengurus berbagai administrasi, mulai dari kartu tinggal sementara, asuransi kesehatan publik, asuransi kesehatan kampus, enrollment, hingga menemui masing-masing profesor yang menjadi supervisor kami.



Tsu City Hall
Kami menuju balai kota Tsu diantar oleh Tsukada sensei menggunakan mobilnya. Kami akan menuju pemda untuk mengurus administrasi. Sesampainya di sana, Tsukada sensei mengatakan jika kita akan cukup banyak menghabiskan waktu di sana, ketika saya tanya berapa lama, sambil sedikit 'hoream' Tsukada sensei menjawab sekitar 1,5 jam. Whattt? di Indonesia, urusan dengan pemda, atau askes, bisa memakan waktu seharian. 
Saya dibuat takjub dengan pelayanan publik di kota ini, meskipun Tsu City ini bukanlah kota besar, namun PNS dan honorer nya bekerja dengan gesit, juju, jauh etos kerjanya di atas PNS di Pemda-Pemda di Indonesia.
Akhirnya, kami memperoleh layanan Asuransi dan kartu izin tinggal sementara, setelah diproses selama kurang lebih 11/4 jam saja.



Warung Udon, siang hari
Selepas dari Tsu City Hall, Tsukada sensei mentraktir kami ke warung Udon. Udon adalah sejenis mie Jepang, yang memiliki ukuran lebih besar dari ramen, Udon ini ada yang disajikan panas maupun dingin. Udon ini aman dikonsumsi muslim, karena bahan kuah nya dari ikan. Namun, tentu kita harus cermat memilih lauknya. Saya memilih tempura ikan sebagai lauk, yaaaa....bismillah saja, karena memang di sini, makanan berlabel halal cukup sulit ditemukan. 



Faculty of Bioresources, siang-sore
Selepa makan, kami menuju ruangan konferensi di fakultas kami, bioresources. Kami diminta mengisi Formulir terkait izin penggunaan asrama, dan biaya pendaftaran kuliah. Ketika akan mengisi formulir pedaftaran, hal yang cukup mengherankan terjadi, ternyata Mie University tidak menyediakan formulir berbahasa inggris bagi mahasiswa internasionalnya. Cukup menggelikan juga, karena seluruh formulir ditulis dengan huruf kanji. Akhirnya, kami dibantu mengisi oleh Tsukada sensei sendiri, dan ternyata ada seorang mahasiswi tingkat akhir yang bersedia ikut membantu, dia bernama Megumi. Megumi san ternyata pernah short stay mengunjungi IPB dan Unsri selama 1 minggu, bahasa inggrisnya pun cukup fasih. Setelah bersusah payah mengisi formulir pendaftaran, kami diajak menemui supervisor masing-masing. Saya sendiri diajak menemui Prof. Hiromitsu Kisanuki. Hal pertama yang ditanyakan Professor Kisanuki pada saya adalah, 'di mana anda membeli jaket The North face? Gubraaak, rupanya jaket ini harganya sangat mahal di Jepang, dan beliau ternyata penggemar hiking juga seperti saya.
Di lab profesor Kisanuki, saya diperkenalkan dengan mahasiswanya yang lain, rupanya beliau memiliki tiga puluhan mahasiswa S1, dan dua mahasiswa magister, jadi saya merupakan mahasiswa magister ketiga untuk tahun ajaran ini, dan satu-satunya mahasiswa international.
yah, setelah seharian, saatnya pulang, semoga ke depan, semua berjalan baik. 

Minggu, 05 April 2015

Catatan Hari 2

Tanggal 5 April 2015
Gerbang Belakang Mie University, pagi hari
Ramalan cuaca menyatakan hari akan huja. Terpaksa kami membatalkan rencana melihat sakura karena memang hujan. setelah reda, kami memutuskan untuk belanja ke toko Daiso dan Aeon. Namun sebelumnya ternyata di gerbang belakan Mie Univ. ada pohon sakura besar....lumayan bagus buat foto. ya sedikit narsislah di sini.

Daiso, siang-sore
Toko ini pasti dikenal oleh mahasiswa Indonesia di Jepang. Toko ini penyelamat anggaran mahasiswa untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari. Kenapa? karena di Daiso ini semua barang hanya berharga 100 yen saja (1 yen=110 rupiah)....jadi harga satu jenis barang apapun di toko ini cuma 11 ribuan saja.dan barang yang tesedia cukup lengkap, dari alat tulis, mandi, sabun, taman, detergent, payung, dsb. Melihat itu, kami berbelanja cukup banyak barang sebagai perlengkapan selama satu tahun. 

Aeon, siang-sore
Jaringan toserba Aeon cukup dikenal di Jepang. Di sini kami berbelanja cukup banyak barang, saya sendiri membeli susu, jus, ikan, hingga penggorengan seharga 700an yen, Karena saya muslim, sedangkan roomate saya beragama lain, untuk menghindari tercampurnya makanan yang tidak boleh kami makan. Di Jepang, kami harus membeli kantung kresek dengan harga lumayan, tujuannya agar pembeli membawa sendiri kantung belanjanya. dan pembeli harus mengemas sendiri belanjaanya. Namun, kami disediakan kardus bekas stok barang gudang yang boleh digunakan secara gratis. Karena kami tidak membawa kantung belanja, kami putuskan untuk membawa belanjaan dengan kardus. 
Karena kami kalap ketika berbelanja di Daiso dan Aeon, kami membawa belanjaan cukup banyak dan berat, sementara kondisi di luar hujan gerimis dengan suhu sekitar 10 derajat celsius. Akhirnya kami putuskan ke rumah kang Candra untuk meminjam sepeda. 
Jadi, ketika berbelanja di Jepang, bawalah sepeda dan kantung belanja, atau belanja lah dengan jumlah sedikit terlebih dahulu, agar tidak merepotkan ketika mengepak barang. O, ya, untuk menghemat, sebaiknya anda berbelanja jam empat sore, karena berbagai bahan makanan segar (daging, telur, dsb) akan didiskon setengah harga.





Sabtu, 04 April 2015

Catatat Hari 1

Tanggal 3 April 2015
Udara antara Indonesia-Korea

Kami berempat berangkat dengan pesawat Korean Airlines menuju Nagoya, transit di Incheon Korea. Penerbangan menggunakan kelas ekonomi (kelas standar penerima beasiswa, heehehhee...). Yang membuat penerbangan ini menarik bagi saya, ya tentu, melihat flight attendant nya....putih-putih bening seperti kaca...hahaha.

Hal yang akan selalu saya ingat tentang KAL, adalah menu makan malamnya. Untuk pertama kalinya saya mencoba makan Nasi Bibimbap.... Alhamdulillah, di situ saya merasa bangga jadi orang Indonesia yang memiliki beribu jenis kuliner yang semuanya enak...hehehehehe.... Jujur, saya merasa kurang cocok dengan masakan Korea. Lidah saya mungkin sudah kaku terhadap ikan asin dan sambel.

Incheon, pagi hari
Tiba di Incheon, kami berempat segera mengurus untuk transit, tidak banyak waktu karena pesawat berangkat dari Incheon menuju Nagoya dua jam lagi.


Nagoya, siang hari
menempuh perjalanan satu jam dari Incheon, kami menuju Nagoya yaitu ke bandara Central Japan International Airport (Centrair) Chubu. Sesampainya di Nagoya, kami menjalani proses di Imigrasi. Di saat itulah, kami pemegang paspor hijau kadang merasa sedih. Karena pemeriksaan imigrasi kami terpisah dari orang lain pemegang paspor cokelat, proses nya pun sedikit lebih lama. 
Seusai proses imigras, kami sudah ditunggu oleh penanggung jawab program kami, yaitu Tsukada sensei. Jujur, saya langsung merasa kaget, karena semua orang Jepang cenderung selalu tergesa-gesa, bahkan ketika baru keluar dari bandara, kami jadi seperti berlari-lari mengejar Tsukada sensei menuju pelabuhan. Pelabuhan? yap, kami akan melanjutkan perjalanan dengan menggunakan speedboat menuju Tsu-shi melalui Teluk Ise. karcisnya lumayan mahal, sekitar 2600 yen, namun karena kami memegang kartu student dari imigrasi, kami memperoleh potongan harga menjadi hanya 1800an yen saja. 


Tsu, Mie, siang-malam
Hari sabtu ini merupakan hari yang penuh bagi kami. Setiba di dormitory, kami ditempatkan di dalam kamar terpisah satu sama lain. Kami berempat ditempatkan masing-masing satu kamar dengan mahasiswa internasional yang lain. Kamarnya berupa ruangan dengan masing-masing ruang tidur, satu ruang makan dilengkapi kompor listrik, kulkas, microwave; dua shower room; dan dua toilet. Saya sekamar dengan Yosuke san dari Jepang, dan satu lagi Mo Nong dari Tiongkok. 
Siang itu, kami diajak makan siang di apato (apartemen) ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia MIE (PPI), yaitu kang Chandra, alumni program double degree yang sekarang berkesempatan meneruskan ke S3. Di rumah kang Chandra kami dijamu masakan istrinya. Kemudian kami diminta dengan sangat untuk memilih barang-barang di rumah mereka agar kami bawa. Barang-barang? Ternyata barang-barang yang dimaksud adalah peninggalan-peninggalan mahasiswa Indonesia di Mie yang ditinggal karena pulang, jadi karena harga bagasi cukup mahal, mereka mewariskan sebagian barang-barang agar bisa digunakan oleh mahasiswa Indonesia selanjutnya. 
Setelah puas memilih-milih barang yang kami perlukan, kami pulang dan beristirahat. Pukul tujuh malam kami diajak ke acara penyambutan pelajar baru oleh PPI Mie. Kami dijamu di apato Mba Nina, mahasiswa Indonesia yang senior di Mie University. Di apato Mba Nina kami diperkenalkan. Ternyata tidak terlalu banyak mahasiswa Indonesia di Mie ini.Yang ada saat ini, enam orang mahasiswa yang studi, ditambah lima orang mahasiwa yang sedang short stay selama lima minggu, ini minggu ketiga mereka. O, ya di Mie juga sedang ada dosen kami Pa Sunardi, yang kebetulan sedang ada project penelitian di Mie, sehingga bisa menemani kami selama sebulan ini.
Akhirnya kami berempat pulang bersama teman-teman PPI ke dormitory, dan...langsung tumbang...



Catatan Hari -1-0

Tanggal 02 April, 2015
Beskem Biocita.
Alhamdulillah, Allah SWT memberikan saya begitu banyak saudara, bukan hanya saudara kandung, namun juga saudara sependidikan, sepenempaan, dan sepembinaan. Diiringi oleh do'a mereka, terutama do'a pembina, saya pulang dan bersiap untuk berangkat.

Tanggal 03 April, 2015
Buah Batu, dini hari
Terharu, karena pada malam itu saya merasa dikelilingi oleh orang-orang yang menyayangi. Baik sebagai anak, saudara, sahabat, bahkan menjadi seseorang yang dicintai (uhuk :p).

Soetta,
Saya berangkat diantar oleh mamah, apa, A Deni, mamih, apih, dan terutama Omaku rock n roll..hehehe, Alhamdulillah beliau masih sehat. Serta diiringi do'a dari seseorang (uhuk lagi :p).