ini bukan tentang perjalanan ke Nabana no Sato. Ini tentang perjalanan pertama kali takziah melayat saudara setanah air yang meninggal di sini.
Siang tadi saya melalui grup Line menerima kabar jika anak dari seorang rekan setanah air telah berpulang ke rahmatullah. Almarhumah baru berusia 14 bulan, dan memang memiliki banyak kelainan sehingga daya tahan tubuhnya tidak seperti anak biasa. Rekan kami tersebut adalah seorang kenshusei (sebutan bagi pekerja atau pemagang di Jepang).
Di negeri orang, yang tidak banyak muslimnya, apalagi di Jepang, yang sangat banyak aturannya, musibah seperti ini tentu saya yakin cukup menyulitkan apalagi jika jauh dari sanak saudara. Apalagi di sini, sulit mencari lahan pemakaman, masjid, bahkan mencari ustadz untuk berdo'a pun sulit. di tempat ini saya menyadari jika setiap muslim memang harus mengetahui berbagai hal termasuk mengurus dan mendo'akan jenazah. Namun, di sini juga saya menyadari jika di sini rasa persatuan ummat hingga rasa ke-Indonesiaan itu tumbuh kuat. Barusan, acara tahlilan, semua kenshusei dan mahasiswa di sekitar Mie meluangkan waktu untuk mendo'akan almarhumah. Di sini, meringankan beban keluarga yang terkena musibah itu sungguh terlihat. Bahkan, untuk acara tahlilan, masing-masing tanpa diminta memasak dan membawa ke apato (apartemen) keluarga almarhumah. Bahkan rekan kami yang bukan Islam pun ikut serta datang dan membawa masakan, bahkan ikut duduk ketika tahlilan. Semua ikut serta mulai dari menyiapkan makanan, mendampingi keluarga mengurus otopsi jenazah (karena di sini jenazah wajib diotopsi), menjemput rekan lain di stasiun, hingga mencari lahan pemakaman. Dengan semua keterbatasan kami, dengan jumlah kami yang sedikit, dengan berbagai etnis, suku, dan agama, justru di sini, kami merasa seperti saudara, se-Indonesia. Alhamdulillah.
Innalillahiwainnalillahi rojiun, jaga kesehatan bah...
BalasHapusbtw..3 paragraf bah?