Udara antara Indonesia-Korea
Kami berempat berangkat dengan pesawat Korean Airlines menuju Nagoya, transit di Incheon Korea. Penerbangan menggunakan kelas ekonomi (kelas standar penerima beasiswa, heehehhee...). Yang membuat penerbangan ini menarik bagi saya, ya tentu, melihat flight attendant nya....putih-putih bening seperti kaca...hahaha.
Hal yang akan selalu saya ingat tentang KAL, adalah menu makan malamnya. Untuk pertama kalinya saya mencoba makan Nasi Bibimbap.... Alhamdulillah, di situ saya merasa bangga jadi orang Indonesia yang memiliki beribu jenis kuliner yang semuanya enak...hehehehehe.... Jujur, saya merasa kurang cocok dengan masakan Korea. Lidah saya mungkin sudah kaku terhadap ikan asin dan sambel.
Incheon, pagi hari
Tiba di Incheon, kami berempat segera mengurus untuk transit, tidak banyak waktu karena pesawat berangkat dari Incheon menuju Nagoya dua jam lagi.
Nagoya, siang hari
menempuh perjalanan satu jam dari Incheon, kami menuju Nagoya yaitu ke bandara Central Japan International Airport (Centrair) Chubu. Sesampainya di Nagoya, kami menjalani proses di Imigrasi. Di saat itulah, kami pemegang paspor hijau kadang merasa sedih. Karena pemeriksaan imigrasi kami terpisah dari orang lain pemegang paspor cokelat, proses nya pun sedikit lebih lama.
Seusai proses imigras, kami sudah ditunggu oleh penanggung jawab program kami, yaitu Tsukada sensei. Jujur, saya langsung merasa kaget, karena semua orang Jepang cenderung selalu tergesa-gesa, bahkan ketika baru keluar dari bandara, kami jadi seperti berlari-lari mengejar Tsukada sensei menuju pelabuhan. Pelabuhan? yap, kami akan melanjutkan perjalanan dengan menggunakan speedboat menuju Tsu-shi melalui Teluk Ise. karcisnya lumayan mahal, sekitar 2600 yen, namun karena kami memegang kartu student dari imigrasi, kami memperoleh potongan harga menjadi hanya 1800an yen saja.
Tsu, Mie, siang-malam
Hari sabtu ini merupakan hari yang penuh bagi kami. Setiba di dormitory, kami ditempatkan di dalam kamar terpisah satu sama lain. Kami berempat ditempatkan masing-masing satu kamar dengan mahasiswa internasional yang lain. Kamarnya berupa ruangan dengan masing-masing ruang tidur, satu ruang makan dilengkapi kompor listrik, kulkas, microwave; dua shower room; dan dua toilet. Saya sekamar dengan Yosuke san dari Jepang, dan satu lagi Mo Nong dari Tiongkok.
Siang itu, kami diajak makan siang di apato (apartemen) ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia MIE (PPI), yaitu kang Chandra, alumni program double degree yang sekarang berkesempatan meneruskan ke S3. Di rumah kang Chandra kami dijamu masakan istrinya. Kemudian kami diminta dengan sangat untuk memilih barang-barang di rumah mereka agar kami bawa. Barang-barang? Ternyata barang-barang yang dimaksud adalah peninggalan-peninggalan mahasiswa Indonesia di Mie yang ditinggal karena pulang, jadi karena harga bagasi cukup mahal, mereka mewariskan sebagian barang-barang agar bisa digunakan oleh mahasiswa Indonesia selanjutnya.
Setelah puas memilih-milih barang yang kami perlukan, kami pulang dan beristirahat. Pukul tujuh malam kami diajak ke acara penyambutan pelajar baru oleh PPI Mie. Kami dijamu di apato Mba Nina, mahasiswa Indonesia yang senior di Mie University. Di apato Mba Nina kami diperkenalkan. Ternyata tidak terlalu banyak mahasiswa Indonesia di Mie ini.Yang ada saat ini, enam orang mahasiswa yang studi, ditambah lima orang mahasiwa yang sedang short stay selama lima minggu, ini minggu ketiga mereka. O, ya di Mie juga sedang ada dosen kami Pa Sunardi, yang kebetulan sedang ada project penelitian di Mie, sehingga bisa menemani kami selama sebulan ini.
Akhirnya kami berempat pulang bersama teman-teman PPI ke dormitory, dan...langsung tumbang...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar