Jumat, 29 Mei 2015

Catatan Akhir Bulan Kedua. Hirakura Forest II

Pada tanggal 25-27 Mei, saya diajak sensei untuk menjadi pendamping kuliah lapangan anak-anak undergraduate tingkat 2 yang akan dilaksanakan di Hirakura Forest Station (hutan riset milik Mie University), yang terletak sebetulnya masih di kota Tsu.
Suasana perjalanan

Menyusun herbarium

Memotong ranting untuk herbarium

Trio Asisten (yang tengah anak bawang)
Kegembiraan di puncak, ini kunjungan pertama mereka ke Hirakura dan Mi Une

Suasana di puncak Mi Une

Suasana test lisan

Lodge

Persiapan saya untuk kuliah lapangan ini lebih matang dibanding yang sebelumnya. Sekarang saya sudah memiliki pakaian outdoor yang cukup memadai, seperti sepatu, pelindung kaki, rain coat dan rain cover.

Terdapat tiga orang sensei yang ikut, yaitu Profesor Kisanuki, Torimaru sensei, dan Numamoto sensei. Sementara yang menjadi asisten adalah Tahata san (magister student, teacher assistant (TA)), Kimura san (anak tingkat empat), dan saya sendiri (asprak bawang). Pesertanya adalah anak tingkat dua yang tergabung ke dalam departemen kehutanan sebanyak kurang lebih dua puluh orang.

Kegiatan kuliah lapangan ini bertujuan untuk mengenalkan jenis-jenis tumbuhan terutama pohon yang bermanfaat dalam industri kehutanan di Jepang, yaitu jenis-jenis oak, mapple, cedar, spruch, breech, dsb.

Seperti sebelumnya, kami menginap di logde milik universitas. Lodge ini pernah digunakan untuk suting film Jepang, Woodjob!. Saya menempati kamar bersama Kimura san. Kamar ini terdiri dari tiga ranjang susun dua tingkat, jadi satu kamar sebetulnya bisa memuat hingga enam orang. Kami sampai pada pukul sebelas siang, setelah menempuh dua jam perjalanan dengan bus universitas. Setelah makan siang, kami memulai kegiatan kuliah lapangan. Mahasiswa mengikuti sensei berkeliling area hutan, ditemani tiga orang staf tambahan dari Hirakura. Sesekali sensei berhenti, kemudian salah satu staf hutan memotong ranting dan dibagikan kepada seluruh peserta untuk disampling dan akan dibuat herbarium. Kisanuki sensei menjelaskan sendiri nama dan ciri-ciri tumbuhan tersebut, uniknya, nama yang dijelaskan menggunakan nama lokal, bukan nama latin. Contohnya, pohon mapple nama lokalnya adalah kaede, jadi ada berbagai jenis kaede seperti itaya kaede, oo itaya, dsb.

Pukul lima sore, kegiatan dihentikan, dan semua kembali tiba di lodge. Selanjutnya pada pukul enam, semua melaksanakan makan malam. Seusai makan malam, mahasiswa membuat herbarium dari jenis-jenis yang disampling tadi. Mereka bekerja hingga larut malam, padahal besoknya kita akan melaksanakan kegiatan hiking selama delapan jam dari pukul sembilan hingga pukul lima sore.

Keesokan harinya, kami melakukan perjalanan hiking memutari hutan Hirakura. Pada awalnya saya sempat meremehkan keadaan hutan Jepang, mengingat saya berasal dari hutan hujan tropis yang lebih ganas. Tetapi ternyata perjalanannya cukup melelahkan. kami menaiki ketinggian dari 570 m hingga ke puncak gunung ketinggian 1200 m. Meskipun tidak terlalu tinggi namun rute nya cukup jauh. Dan, meskipun rutenya jauh, professor saya (48 tahun) dan seorang staff lokal yang usianya enam puluh tahun, masih sanggup memandu para peserta. Saya jadi ingat dosen saya di UPI, Pa H. Eman. Melihat kemampuan professor Kisanuki menghapal tumbuhan, saya seolah-olah merasakan bagaimana mahasiswa IKIP dahulu belajar taksonomi tumbuhan dari Pa H. Eman. kami mendaki hingga ke puncak gunung Mi Une, 1200 mdpl. Pemandangan di puncak Mi Une sangat indah. Menurut Sensei, saya sangat beruntung karena biasanya di puncak ini selalu turun hujan atau berkabut.

Tepat pukul lima sore kami tiba di lodge. Setelah makan malam, para peserta kembali membuat herbarium, sambil menghapal untuk test lisan keesokan harinya. Test lisan dilaksanakan dengan tanya jawab secara individu. Sensei menunjukkan potongan ranting dan daun satu persatu kemudian ditebak namanya oleh mahasiswa. Mereka harus menebak minimal tiga puluh jenis tumbuhan dalam waktu sepuluh menit.

Seusai ujian, seperti biasa, kami bergotong royong membereskan lodge, dari kamar hingga gudang dan WC. Kemudian kami pulang ke kampus, dengan membawa serta sampah yang dihasilkan selama pelaksaan kuliah lapangan.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar